Sekilas Jamu Nyonya Meneer

Pembangunan kesehatan Indonesia tahun 2010 – 2014 bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan masyarakat dalam hidup sehat, agar terciptanya derajat kesehatan masyarakat yang tinggi (Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia, 2010). Pelaksanaan pembangungan kesehatan memerlukan dukungan dari sumberdaya potensial, salah satunya obat tradisional atau jamu, yang selama dasawarsa terakhir diterima dengan baik dalam pelayanan kesehatan Indonesia.

Kata jamu berasal dari kata jampi. Dalam bahasa Jawa Kuno, jampi berarti “ramuan ajaib”. Jampi-jampi berarti penggunaan mantera oleh dukun, sedangkan kata menjampi berarti “menyembuhkan dengan magis/ mantera”. Menurut kepercayaan kejawen, saat dukun membuat jamu, dia harus berdoa meminta restu Gusti (Tuhan – kejawen) (Mangunsuwito, 2002). Pendapat lainnya, ada yang mengatakan bahwa kata jamu berasal dari gabungan 2 kata, yaitu kata jampi dan oesodho. Dalam hal ini, jampi diartikan sebagai usaha yang dilakukan untuk mencari kesembuhan dan juga agar tetap sehat, bisa dengan mengunakan mantra (doa) atau tumbuhan obat. Sedangkan oesodho berarti kesehatan atau sehat yang dapat diperoleh baik dengan pengobatan maupun tindakan lainnya (Tilaar et al., 2010).

Dewasa ini, jamu menjadi konsumsi utama dalam pembangunan nasional, yang memainkan peran penting dalam kesehatan nasional, serta mendorong perekonomian pedesaan. Perkembangan jamu sangat dinamis sebagai obat tradisional. Dari bahan baku tumbuhan yang sama, dapat dikembangkan sebagai jamu dengan manfaat beragam (Tilaar et al., 2010). Tren “Back to Nature” menjadi populer pada era 1970-an, padahal masyarakat Indonesia telah berabad-abad hidup dengan alam. Beberapa prasasti dan dokumen tertulis dalam bentuk batu, daun-daunan, maupun kertas yang ditemukan di seluruh kepulauan Indonesia menunjukkan bukti dasar tentang penggunaan obat-obat tradisional, atau biasa disebut jamu. Usaha untuk menjaga kesehatan dengan jamu telah diturunkan dari generasi ke generasi, yang disebut “mudi salira” (Tilaar et al., 2010).

Jamu semakin dekat dengan masyarakat dan dapat ditemukan dengan mudah karena tersedia di banyak tempat, dari swalayan, toko serba ada di perkotaan, hingga warung-warung kecil di pedesaan. Selain harganya yang relatif murah, orang menjadi lebih memilih mengkonsumsi jamu karena kandungan bahan-bahan alami tanpa efek samping. Jamu merupakan produk kultural masyarakat Indonesia, terutama masyarakat Jawa. Ramuan alami dan bebas bahan-bahan kimia artifisial membuat jamu menarik  konsumen, ditambah dengan gencarnya semangat back to nature oleh masyarakat modern. Dahulu mungkin sulit membayangkan jamu diminum oleh orang dalam bentuk sachet yang higienis atau diperdagangkan di toko-toko eksklusif. Namun, sekarang jamu sudah terangkat menjadi bagian dari gaya hidup modern (Tilaar et al., 2010).

Produk andalan jamu modern dalam kemasan bervariasi, dari produk minuman jamu seperti temulawak, hingga produk penggunaan luar seperti param. Diversifikasi produk dilakukan demi memperkaya varian yang ada. Jajaran produk baru senantiasa dikembangkan dengan menghasilkan produk-produk inovatif, seperti minyak pijat, pengharum badan, scrub untuk mandi, dan bedak wajah. Semua produk baru dipasarkan ke daerah-daerah hingga yang terpelosok di tanah air (Gading, 2010).

Siapa yang masih asing dengan jamu?? Jamu merupakan obat yang sangat tradisional dan Indonesia “banget:-) Salah satu perusahaan jamu yang masih eksis berkiprah dengan skala nasional adalah “Nyonya Meneer“. Berikut ulasan tentang produk jamu Nyonya Meneer yang masih berdaya jual di tengah maraknya obat-obat yang lebih modern.

Jamu merupakan sebuah produk kultural dan ekonomi dari masyarakat Indonesia, terutama masyarakat Jawa. Ramuan yang alami dan bebas bahan-bahan kimia artifisial membuat jamu selalu menarik  konsumen, ditambah lagi dengan gencarnya semangat back to nature oleh masyarakat modern. Dahulu mungkin sulit membayangkan jamu diminum oleh orang dalam bentuk sachet yang higienis atau diperdagangkan di toko-toko eksklusif. Namun, sekarang jamu sudah terangkat menjadi bagian dari gaya hidup modern (Tilaar et al., 2010).

Salah satu perusahaan jamu ternama di Indonesia yang berskala nasional adalah PT Nyonya Meneer, yang terkenal dengan tagline “Berdiri Sejak Tahun 1919”. Menurut Imam Nuryanto dalam “88 Tahun PT Nyonya Meneer: Terus Berinovasi menuju Pasar Global”, PT Nyonya Meneer  telah dianggap sebagai sebuah ikon industri nasional jamu dan kosmetik tradisional terbesar dan tertua di tanah air. Produk andalan PT Nyonya Meneer bervariasi, dari produk minuman jamu seperti temulawak, awet ayu, habis bersalin, hingga produk untuk penggunaan luar seperti param dan buste cream.

Jika kemasan jamu produksi PT Nyonya Meneer diamati dengan seksama, maka sebuah potret kecil hitam putih yang menjadi simbol perusahaan tersebut selalu tercantum di setiap kemasannya selama hampir satu abad. Potret tersebut adalah potret Nyonya Meneer yang bernama asli Lauw Ping Nio, lahir di Sidoarjo, Jawa Timur tahun 1895 sebagai anak ketiga dari lima bersaudara. Nama ”Menir” diperoleh sebagai nama kecilnya, karena ibu Lauw Ping Nio suka mengunyah beras menir (butir halus padi sisa penumbukan). Kata “Menir” akhirnya ditulis menjadi “Meneer” karena pengaruh Bahasa Belanda (Anonim, 2010).

 

 

 

Nyonya Meneer menikah dengan pria Surabaya, kemudian mengikuti suami berpindah ke Semarang. Awal abad ke 20 merupakan saat-saat sulit rakyat Indonesia dengan semakin kejamnya penjajahan Belanda. Suami Nyonya Meneer pun termasuk menjadi korban kekejaman kolonial Belanda, hingga jatuh sakit dan sulit sembuh. Saat genting tersebut justru menjadi saat pertama Meneer membuktikan bakat dan kepiawaiannya meracik jamu. Alhasil sang suami berhasil sembuh dan hal tersebut membuatnya semakin bersemangat  untuk mengasah dan memraktikkan ilmu dan pengetahuan meracik jamu yang ia dapat dari orang tuanya (Anonim, 2010).

Seiring berjalannya waktu, Meneer semakin percaya diri dengan meramu jamu bagi kerabat dan orang-orang terdekat yang sakit. Perlahan tetapi pasti, jamu jualannya itu merambah kota-kota lain di sekitar Semarang. Ia juga membungkus jamu itu dalam kemasan yang menunjukkan potret dirinya, yang ditujukan awalnya untuk sarana silaturahmi, tetapi terbukti ampuh dan legendaris hingga kini sebagai simbol perusahaan (Anonim, 2010).

Demi menyaksikan kemampuan mengagumkan Nyonya Meneer dalam menolong orang dengan racikan jamunya yang berkhasiat tersebut, suami dan keluarganya lalu mendukung pendirian sebuah usaha yang dinamai “Jamu Cap Potret Nyonya Meneer”. Sembari menjalankan usaha pabrik jamu tersebut, Nyonya Meneer juga membuka usaha lain yaitu toko jamu yang terletak di Jalan Pedamaran 92, Semarang (Anonim, 2010).

Jamu Nyonya Meneer tercatat mulai merambah pasar Jakarta saat putrinya yang bernama Nonnie di tahun 1940 memutuskan untuk bertempat tinggal di ibukota Indonesia, Jakarta. Nonnie kala itu berinisiatif untuk membuka sebuah cabang baru pabrik jamu ibunya. Toko itu berdiri di  daerah Pasar Baru, tepatnya Jalan Juanda, yang merupakan salah satu sentra kegiatan perekonomian ibu kota (Susanto dan Ahniar, 2009).

Diversifikasi produk dilakukan demi memperkaya varian yang ada. Jajaran produk baru senantiasa dikembangkan dengan menghasilkan produk-produk inovatif, seperti minyak pijat, pengharum badan, scrub mandi, dan bedak wajah. Semua produk baru dipasarkan ke daerah-daerah lain yang lebih terpelosok di tanah air. Pada era 1970-an, perusahaan jamu Nyonya Meneer mulai mengalami tingkat persaingan ketat. Banyak pesaing yang bermunculan di pasar yang menjadi sasaran Nyonya Meneer. Pertarungan sengit antarprodusen jamu dari  segi harga, peluncuran jenis produk yang serupa, hingga pertarungan untuk memperebutkan ceruk pasar terlihat sangat kentara pada masa-masa tersebut. Beberapa pesaing agresif bagi Jamu Cap Potret Nyonya Meneer ialah PT Sido Muncul dan PT Air Mancur.

Namun, Hans Ramana yang merupakan kepercayaan direktur utama PT Nyonya Meneer merupakan pribadi yang hangat dan mudah akrab dengan orang lain, sehingga mampu menjalankan kepemimpinan dengan baik. Didukung oleh segenap keluarga dan karyawan, serta ibunya sendiri, ia berhasil menciptakan sebuah lingkungan kerja yang kondusif bagi semua orang yang menyandarkan kehidupannya di perusahaan tersebut.

Kerjasama yang begitu erat dan harmonis antara ibu dan anak – Nyonya Meneer dan Hans Ramana – berimbas positif pada kinerja perusahaan yang dibina. Selama dikelola oleh duet pimpinan ibu dan anak ini, pabrik “Jamu Cap Potret Nyonya Meneer” menampakkan kemajuan yang signifikan. Sehingga, tantangan dari para pesaing pabrik jamu yang muncul di pasaran tidak menghancurkan kinerja dan perkembangan PT Nyonya Meneer.

Menurut website resmi PT Nyonya Meneer, visi perusahaan jamu ternama tersebut adalah “Karena mutu, kami unggul di setiap pesaing pasar”. Sedangkan misi untuk mewujudkan visi tersebut adalah sebagai berikut.

                         i.          Melestarikan warisan tradisi nenek moyang dalam menjaga kesehatan dan kecantikan.

                       ii.         Memberikan pelayanan kesehatan dan kecantikan yang berkualitas serta terjangkau diseluruh lapisan masyarakat.

                     iii.          Pelayanan kesehatan yang tercipta dari masyarakat untuk masyarakat.

         iv.    Turut serta mendorong program pemerintah dalam rangka peningkatan SDM dengan cara pemberdayaan dan pengadaan lapangan kerja.

PT Nyonya Meneer mengambil bahan baku dari supplier lalu diperiksa oleh QC (quality control) dengan pemeriksaan :

a.      1)   Organdeptis, seperti bentuk warna, bau, dan rasa

      2)   Sifat Fisika, seperti kadar air (syarat tidak boleh lebih dari 0%)

b.  Sifat kimia, seperti kadar minyak, kadar larut air (alkohol)

c.  Cemaran mikroba, seperti angka lempeng total

Setelah melalui pemeriksaan QC, kemudian bahan baku tersebut disortir dan dipisahkan dari bahan-bahan lain, selanjutnya dikeringkan (secara manual di bawah sinar matahari atau dengan oven) dan dimasukan ke dalam gudang bahan baku bersih lalu dilakukan peracikan formula jamu. Tahap selanjutnya, bahan-bahan ditimbang sesuai formula perusahaan. Setelah itu, dilakukan proses giling kasar (dengan mesin gerabah), kemudian digiling halus (dengan mesin grindir). Tahap akhir berupa pengemasan  produk dalam kemasan, dan dipasarkan kepada para konsumen.

Dalam pemasaran, berbagai langkah modern ditempuh, termasuk menggunakan Public Relations serta promosi yang modern. Kini dengan 3.000-an pegawai di kedua pabriknya (di Raden Patah dan Kaligawe) dan terbukanya pasar mancanegara, PT Nyonya Meneer tidak saja berhasil mengangkat harkat jamu tetapi juga berhasil menjawab kebutuhan akan jamu dan hidup sehat alami dengan back to nature. Produknya kini juga dipersiapkan untuk merambah ke pasar internasional, yaitu ke 3 benua (Asia, Eropa, dan Amerika); serta ke 12 negara, termasuk Malaysia, Jepang, Korea Selatan, Singapura, Taiwan, dan Cina.

Diversifikasi produk Jamu Cap Potret Nyonya Meneer dibagi menjadi empat bagian utama, yaitu : (1) jamu untuk wanita, (2) jamu untuk pria, (3) jamu untuk perawatan dan penyembuhan, dan (4) produk unggulan. Masing-masing bagian diklasifikasikan kembali menjadi beberapa produk dan untuk tiap produk diberi penomoran masing-masing sesuai dengan urutan dibuatnya produk tersebut.

(1)          Jamu untuk Wanita

A. Jamu Perawatan

Jamu Gadis Remaja (No. 48), Jamu Galian Sari (No. 50), Jamu Galian Putri (No. 64), Jamu Galian Singset (No. 85), Jamu Srikaton (No. 103), Jamu Awet Muda (No. 106 A), Jamu Sehat Wanita (No. 9), Jamu Galian Rapet (No. 16), dsb.

B. Jamu Penyembuhan

Jamu Peputih (No. 17), Jamu Nifas (No. 27), Jamu Datang Bulan tidak Cocok (No. 30), Jamu Kering Istimewa (No. 90), dsb.

C. Kosmetik

Bedak Awet Ayu (No. 18 A), Lulur Awet Ayu (No. 18 B), Lulur Awet Ayu Cream (No. 18 C), Bedak Dingin (No. 69), Buste Cream (No. 94 A).

D. Perawatan Setelah Bersalin

Paket-paket Jamu Habis Bersalin, Jamu Ratus, dsb.

(2)          Jamu untuk Pria

A. Jamu Penyembuhan

Jamu Pria Janoko (No. 1), Jamu Pria Sehat (No. 19), Jamu Bina Tenaga (No. 2), dsb.

B. Jamu Perawatan

Jamu Klingsir (No. 91) untuk membantu menyembuhkan penyakit hernia.

 

(3)          Jamu untuk Perawatan dan Penyembuhan

Jamu Cabe Puyang (No. 14), Jamu Carang Burung (No. 21), Jamu Singkir Angin (No. 109), dsb.

(4)          Produk Unggulan

Minyak Telon (No. 107), Awet Ayu Buste Cream (No. 94), Singkir Angin Cair Madu (No. 109 CM), Singkir Angin Cair Flu (No. 109 CF), Jamu Amurat (No. 118), serta Jamu Habis Bersalin Lengkap Super (No. U 40).

About these ads

5 thoughts on “Sekilas Jamu Nyonya Meneer

  1. Ulasan yg bagus ttg salah satu perusahaan jamu tertua di Indonesia ini.. Sy pikir mungkin mrk perlu segera “lompat” agar bs on the track dg Sido Muncul dkk (perusahaan jamu modern) agar trs mampu survive di era yg super kompetitif ini.. :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s